Belajar Menjadi Orang Tua

 

Delapan bulan sudah saya menyandang status baru sebagai ibu. Ada banyak hal yang saya pelajari selama 8 bulan ini. Mulai dari usaha menyusui, menyiapkan MPASI dan tentunya memantau perkembangannya baik motorik maupun perkembangan lainnya. Alhamdulillah hingga usianya yang hampir 9 bulan ini, anak saya perkembangannya cukup baik. Dia sudah bisa merangkak dan mulai mengucapkan beberapa kata random. Dia juga sudah mulai memahami beberapa instruksi yang kami berikan. Adapun untuk urusan makan, saya masih kesulitan karena anak saya kadang masih menolak makanan yang saya buatkan untuknya.

Tentang perkembangan motorik bayi ini, saya juga sempat dilanda masa galau. Jadi ceritanya saat itu saya mem-follow instagram Andien yang kebetulan usia anaknya tak jauh dari saya. Nah, di instagramnya ini Andien kan cukup sering memposting perkembangan Kawa, putra itu. Awalnya saya merasa termotivasi dengan postingan-postingannya. Beberapa stimulasi yang dilakukan menjadi inspirasi bagi saya untuk diberikan pada putri saya.

Tapi kemudian lama-lama saya jadi frustrasi sendiri. Apa pasal? Perkembangan Kawa sangat pesat sementara perkembangan anak saya terbilang biasa saja. Bayangkan saja si Kawa sudah bisa merayap di usia 5 bulan sementara anak saya cuma bisa nungging-nungging doang. Jadilah setiap kali melihat video perkembangan Kawa saya jadi merasa kecewa pada diri sendiri (atau anak saya?).

Tak mau terus-terusan terintimidasi dengan perkembangan bayi lain, akhirnya saya putuskan untuk berhenti mem-follow instagram Andien. Saya meyakinkan diri setiap bayi memiliki perkembangannya masing-masing. Lagipula kalau berdasarkan panduan yang saya baca, perkembangan anak saya juga masih termasuk sesuai usianya. Alhamdulillah setelah berhenti mengikuti instagram Andien ini, hidup saya lebih tenang dan saya lebih bisa menghargai setiap perkembangan yang ditunjukkan anak saya.

Bicara tentang menjadi orang tua, saya yakin setiap orang tua melalui proses belajarnya sendiri-sendiri. Seperti tulisan mak Inna Riana yang berjudul Belajar Parenting dari Sekitar Kita dalam #KEBloggingCollab, ada banyak sekali jalur yang bisa kita tempuh untuk bisa belajar menjadi orang tua. Mulai dari internet, buku-buku parenting, ikut seminar, film, hingga belajar dari pengalaman orang lain. Saya sendiri, sebelum resmi menjadi seorang ibu, sudah mengikuti beberapa seminar parenting. Hal ini saya lakukan tentunya untuk membekali diri dalam menghadapi anak saya nantinya.

Dalam proses belajar menjadi orang tua sendiri, ada beberapa hal yang ingin saya capai, yakni:

Mendidik anak menjadi anak yang soleh/solehah

Ini tentunya menjadi tujuan utama saya sebagai seorang ibu. Sebagai madrasah pertama bagi anak saya, saya haruslah bisa mendidik anak saya menjadi anak yang soleh sesuai agama yang saya anut. Jika saya ingin anak saya bisa hafal qur’an, maka setidaknya saya cukup fasih membaca al qur’an. Karena itu penting bagi saya untuk membekali diri dengan ilmu agama yang cukup.

Menjadi sahabat bagi anak-anak saya

Ibu saya, termasuk tipe ibu yang tak terlalu menampakkan rasa sayangnya pada anak-anaknya. Sementara almarhum ayah saya adalah orang yang jarang bicara. Hal ini otomatis membuat saya tidak terlalu dekat dengan ayah dan ibu saya. Bahkan saya nyaris tak pernah curhat pada ibu saya. Karena itulah kadang saya merasa iri pada anak-anak yang sangat dekat dengan orang tuanya, bahkan bisa sampai curhat. Dengan menjadi sahabat bagi anak, saya berharap bisa menghindarkan anak-anak saya dari hal-hal negatif yang kerap kita temui di dunia remaja nantinya.

Menjadi orang tua yang memberikan kenangan baik bagi anaknya

Dalam sebuah seminar parenting yang saya ikuti, pembicara bercerita mengenai ibunya. Dalam ceritanya ini, beliau menceritakan kebiasaan ibunya yang selalu diingatnya hingga dewasa. Kebiasaannya sederhana saja. Sang ibu selalu menyiapkan air minum yang sudah dibacakan doa untuk anak-anaknya. Berkaca dari cerita ini, saya pun berharap bisa memberikan kenangan baik bagi anak-anak saya yang tentunya juga berpengaruh pada kepribadiannya nanti.

Itulah dia beberapa hal yang ingin saya capai dalam hal belajar menjadi orang tua. Perjalanan saya insya Allah masih sangat panjang mengingat anak saya masih berusia 8 bulan. Saya berharap seiring bertambahnya umur saya bisa semakin memperbaiki diri dan banyak belajar agar bisa menjadi orang tua yang saya inginkan.

22 thoughts on “Belajar Menjadi Orang Tua

  1. Bener bgt mba cara unfollow itu, salah satu cara mencegah kita membanding2kan anak kita sm anak org. Akhirnya nanti hilang rasa syukur kita. Naudzubillah

  2. Aamiin. Iya mba.. Dulu pas anak pertama aku juga gitu, simak perkembangan motorik..nyocokin sama nggak dengan yang di internet. Tapi saat setahun yang lain jalan, anakku blm..malah panik.

    Anak ke 2..udah bisa santai2. Ntar waktunya jalan, pasti jalan. Yang penting asal kondisi kesehatan bagus, gpp..

  3. Kalau aku baper kalau komentar datang dari luar. Kalau perkembangan masih fine2 ajah gak Baper. Baper Klo udah ada yang “ikut campur”. Trus bahayanya karena sering di recokin akhirnya aku ikutan suka “ikut campur” sama kehidupan orang secara gak sadar. Semangat mba, setiap anak terlahir istimewa dengan bakatnya masing2. Anak tentu gak mau di banding2kan seperti halnya kita yang gak mau di banding2kan

    • Aku alhamdulillah sih sampai hari ini belum ada yang komentar dari luar. malah akunya yang kadang suka membandingkan anak sendiri dengan anak lain. heu

    • iya memang susah menurutku, rima. apalagi para ibu biasanya kesannya cerewet dan galak pasti jadinya PR banget biar bisa jadi sahabat buat anaknya

  4. Aku pengen jadi sahabat untuk anak-anak..selalu berusaha seperti itu jadinya anak tidak sungkan dan kita jg lbh muda mengawasi dia

  5. Tiap ibu punya gaya berbeda dalam didik anaknya ya mba.. Ga bs dong dibandingin sm anak artis yg serba ada sehingga anaknya jg cepet bisa. Orang tua yang hebat itu bukan berada pada dunia yabg sempurna. Tapi mereka yang bisa menciptakan rasa syukur didunia yang tidak sempurna.. 🙂

  6. Mbaa, samaan nih. Aku juga lg baper liat momgram yg suka upload anaknya yg serba ini itu. Tapi emang g bisa dibandingin ah, mereka kan jg push sana sini, budget ini itu, datengin terapis sini situ buat anak nya…. Tetap anak kita mutiara hidup kita yg terbaik

    • iya. kalau menurutku mending kita fokus ke anak kita sendiri aja. kalau soal perkembangan kan sudah ada panduannya. cek di situ aja biar nggak baper. heu

  7. Saya meyakinkan diri setiap bayi memiliki perkembangannya masing-masing. Tetapi banyak orang tua yang enggak yakin sama perkembangan anaknya. Itu masalahnya dan melihat anak orang lain kok lebih baik ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *