Belajar Mengajar

Beberapa tahun yang lalu, saya sempat menonton sebuah film berjudul Freedom Writer. Film ini -yang diangkat dari sebuah buku- bercerita tentang seorang wanita bernama Erin Griwell yang menerima tawaran sebagai seorang guru di sebuah sekolah di Amerika. Tak tanggung-tanggung, Erin harus mengajar di kelas yang paling bermasalah di sekolah tersebut. Siswa-siswa yang nakal, bermasalah dengan keluarga, bullying, hingga rasisme berkumpul di kelas tersebut.

Mulanya Erin merasa kesulitan dalam menghadapi siswa-siswanya tersebut. Namun kemudian ia berhasil menemukan cara untuk bisa menaklukkan para siswa bermasalah ini. Erin membeli sejumlah buku tulis dan membagikannya pada seluruh siswanya. Para siswa kemudian diminta mengisi diary tersebut dengan curahan isi hati mereka. Buku tersebut kemudian dikumpulkan dan Erin akan membaca isinya seusai jam sekolah. Dengan metode yang digunakannya ini, Erin berhasil mengambil hati para siswanya. Tak hanya itu, Erin juga berhasil menghidupkan kembali semangat para siswa untuk belajar dan lulus dari sekolah mereka.

***

Ngomong-ngomong soal mengajar, beberapa minggu terakhir saya menerima amanah untuk menjadi pengisi ekskul menulis di sebuah SD IT di kota saya. Saya mengambil amanah ini selain berkaitan dengan organisasi FLP yang masih saya ikuti juga karena saya merasa tertantang untuk bisa menjadi seorang pengajar. Untungnya jam ekskulnya sendiri berada di luar jam kerja saya. Jadi saya masih bisaΒ  menyisihkan waktu (sok sibuk) untuk sedikit berbagi pengalaman.

Ada dua kelas yang harus saya isi, dengan durasi masing-masing kelas selama satu jam. Jam pertama pesertanya adalah siswa kelas 3, sedang jam kedua diikuti oleh siswa kelas 4 dan 5. Hampir seluruh peserta ekskul menulis ini adalah siswa perempuan, kecuali seorang siswa laki-laki yang duduk di kelas 3.

Beberapa hal yang bisa saya catat selama 3 minggu mengisi ekskul tersebut adalah, para siswa ini cukup kritis. Bayangkan di hari pertama saya mengisi ekskul mereka mengajukan pertanyaan seperti, “Kakak beli jilbabnya di mana?” atau “Nama kakak artinya apa?” Yang cukup menyulitkan, kadang mereka menolak jika materi yang ingin saya sampaikan sudah pernah diberikan pada pertemuan-pertemuan sebelumnya.

Sisi positifnya, beberapa dari mereka sudah cukup mahir membuat cerita. Terutama untuk peserta kelas 4 dan 5, jujur saya sampai dibuat terkagum-kagum dengan imajinasi yang mereka miliki. Salah satu dari mereka misalnya, selalu menulis dengan menyisipkan pesan moral di akhir ceritanya. Lalu ada pula yang sudah cukup lihai menulis deskripsi. Ada pula yang pandai menulis cerita horor. Yah, pada intinya mereka membuat saya sedikit malu dengan konsistensi saya sendiri sebagai seorang yang ngakunya suka nulis.

Kembali lagi ke soal materi ekskul, karena tidak ada panduan yang standar tentang belajar menulis, saya cukup kebingungan juga dalam mengisi ekskul ini. Seperti yang tertulis di atas, para siswa ini selalu menginginkan hal yang baru. Lalu kadang juga ada masanya mereka sedang tidak ingin menulis. Yang lumayan bikin nyess, ada yang sempat nyelutuk kalau kakak pembimbing sebelumnya lebih asyik ketimbang saya. Huwaa rasanya gimana gitu dengarnya.

Tapi ya tentulah saya tidak boleh menyerah. Saya harus belajar kreatif, mencari ide-ide baru untuk meningkatkan semangat menulis para siswa. Dan seperti yang dikatakan orang-orang, mengajar merupakan salah satu cara bagi kita agar semakin rajin belajar. Saya berharap selain bisa membantu anak-anak ini untuk benar-benar menjadi penulis, saya juga bisa lebih memotivasi diri untuk lebih disiplin menulis.

36 thoughts on “Belajar Mengajar

  1. terinspirasi banget sama film freedom writer itu, bagaimana seorang pengajar dicuekin muridnya pada suatu waktu, dan berkat keistiqomahannya mengajar terus akhirnya murid terketuk hatinya dan berubah ke arah yang lebih baik. Nice πŸ™‚ semangat mengajar πŸ™‚

    • yup. begitulah πŸ™‚
      karya siswa-siswanya ada di buku mereka masing-masing. ada sih rencana mau dibikin kumpulan cerita gitu. semoga aja bisa terlaksana

  2. Semangat terus Mbak, mengajarnya :hehe. Menurut saya sebenarnya mengajar itu juga mengajari diri sendiri tentang banyak hal :)). Sebaik-baiknya ilmu kan apabila dibagi :hehe.

  3. Wah, semangat yaaaa…
    Belajar itu nambahin kita sendiri jadi pinter lho. Karena ini kelas menulis, maka Insya Allah, dirimu bisa makin ok nulisnya. Dan Alhamdulillah, masih ada anak2 dan mereka yg mau belajar nulis kaya gini. Seneng dengarnya. btw, kan seperti yg kita tau, hari gini rata2 pada ga peduli tanda baca dsb, dan yg sedih ngeremehin bahasa Indonesia. Ngeremehin cara penyampaian, bertutur, dsb. Boro2 mau jadi penulis kan kalo gitu.

    Well, teruskan ya… tetap semangaaaaatt πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *