Bamboo Rafting di Sungai Amandit

“Kamu yakin mau ikut bamboo rafting?” begitu tanya salah seorang teman saat melihat saya mengenakan jaket pelampung di hari terakhir outbond yang kami ikuti.

Saya terdiam. Jujur saya sendiri agak bimbang kala itu. Di satu sisi saya cukup penasaran dengan kegiatan ini, namun di sisi lain saya juga mengkhawatirkan kandungan saya.

“Nggak usah ikut aja. Bahaya nanti kalau ada apa-apa sama kandungan kamu,” salah seorang rekan kerja yang lain berusaha memberitahu saya. Beliau adalah seorang wanita empat puluhan yang tidur sekamar dengan saya selama outbond.

Saya pun akhirnya melepaskan jaket pelampung dan meletakkannya di tumpukan jaket yang lain. Namun ketika saya mengungkapkan alasan saya tidak mengikuti bamboo rafting, salah satu panitia berusaha meyakinkan saya.

“Ikut aja. Nggak apa-apa kok. Insya Allah aman aja,” begitu kata Bapak itu.

Kali ini lagi-lagi saya berubah pikiran. Saya kenakan lagi jaket pelampung dan bergabung bersama teman-teman yang bersiap turun ke rakit.

 

DCIM100MEDIA

Kurang lebih ada 12 rakit yang digunakan untuk bamboo rafting hari itu. Satu rakit diisi maksimal 4 orang dengan seorang warga lokal yang bertugas mengendalikan rakit. Saya sendiri bergabung bersama 2 orang rekan kerja dari departemen lain. Satu laki-laki, dan satunya wanita. Setelah dirasa siap, pemuda yang bertugas mengendalikan rakit kamu pun mulai mengayuhkan bambu di tangannya. Aliran sungai yang cukup deras membuat rakit berjalan cukup cepat di sepanjang sungai Amandit.

Sepanjang perjalanan menyusuri sungai, rakit-rakit saling berpapasan. Beberapa rakit saya lihat tenggelam dan ada juga rakit yang tetap berada di permukaan air. Rupanya hal ini ada hubungannya dengan bambu yang digunakan dalam pembuatan rakit. Bambu yang berwana hijau termasuk bambu muda dan cenderung tenggelam sedangkan bambu berwarna coklat merupakan bambu tua yang lebih kuat menahan beban.

Mengetahui hal ini, saya dan penumpang lain mulai khawatir. Masalahnya rakit yang kami tumpangi cukup sering terendam. Beberapa kali juga arus yang deras membuat rakit kami sedikit oleng. Saya sendiri berusaha meyakinkan diri kalau perjalanan menyusuri sungai ini akan baik-baik saja meski rakit kami tampak timbul dan tenggelam.

DCIM100MEDIA

Setelah melewati alur lurus dengan aman, kami mulai berhadapan dengan arus berkelok dan berbatu. Di sini sepertinya pengemudi rakit mulai kewalahan. Pasalnya, arus pada belokan ini cukup deras dan posisi rakit kami sangat berdekatan dengan rakit di depan yang sedang berbelok juga. Alhasil, tabrakan pun tak terelakkan. Rakit yang kami tumpangi sukses menghantam bagian belakang rakit di depan dan menjatuhkan beberapa penumpangnya. Rakit kami sendiri sempat tersangkut di batu hingga kemudian berhasil jalan kembali setelah ditabrak oleh rakit di belakang kami.

Dengan kondisi masih gugup akibat tabrakan beruntun yang terjadi, saya berusaha mengecek kondisi penumpang rakit yang kami tabrak. Seorang kawan yang terjatuh dari rakit sempat terbawa arus selama beberapa puluh meter hingga akhirnya berhasil menumpang di rakit yang lain. Kawan yang lain, kakinya tampak terluka yang mungkin disebabkan gesekan bambu. Saya sendiri bersama rekan satu rakit alhamdulillah tidak terjatuh dan mengalami cedera apapun. Namun tetap saja hal ini menimbulkan ketakutan tersendiri bagi kami.

DCIM100MEDIA

Usai insiden ini, rekan wanita yang satu rakit dengan saya memutuskan untuk pindah ke rakit yang lebih aman. Pada akhirnya hanya tingga saya berdua plus pengemudi yang menumpangi rakit itu. Sisa perjalanan sendiri masih sedikit diwarnai kekhawatiran saya akan kandungan saya. Batu-batu yang terdapat di sepanjang sungai memberikan goncangan yang cukup kuat. Bahkan satu kali sempat rakit kami hampir terbalik karena tersandung batu. Dalam hati saya hanya bisa berdoa semoga janin yang saya kandung baik-baik saja dan terus meyakinkan diri kalau janin saya cukup kuat.

Meski sempat diwarnai beberapa insiden, saya tetap merasa kalau perjalanan bamboo rafting yang saya ikuti saat itu cukup seru dan menyenangkan. Satu hal yang saya sesalkan, saya tak membawa kamera ataupun ponsel selama perjalanan. Akibatnya saya tidak memiliki dokumentasi sendiri deh selama perjalanan. Adapun tentang kandungan saya, alhamdulillah hingga pemeriksaan terakhir dedek bayi terlihat sehat. Semoga Allah tetap memberikan kesehatan pada saya dan calon bayi saya hingga masa melahirkan nanti. Aamiin.

18 thoughts on “Bamboo Rafting di Sungai Amandit

  1. Waaaaaa saya ketinggalan info nih
    Ternyata mbak Yana sedang hamil
    Selamat ya, semoga sehat terus dan lancar kehamilannya

    Btw itu bamboo rafting kayaknya seru ya, tapi sepertinya memang butuh keahlian khusus biar gak tabrakan

  2. Ih kereenn. Mba . jadi inget waktu masih kecil dulu di kampung…..media jalan blm ada, satu2nya cara kirim bambu pakai sungai dirakit dulu. Baru tahu dijadikan wisata. Salam kenal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *