Balada Pengguna Motor

Satu hari, saya mengendarai motor bersama adik saya. Saat berada di lampu merah, tiba-tiba saya menyadari ada yang tidak beres dengan Honda Supra Fit keluaran 2005 tersebut. Dari kaca spion, saya lihat asap berwarna putih tampak mengepul pada dari bagian belakang motor saya.

“Itu asap dari motor kita?” tanya saya kemudian pada adik yang duduk di belakang.

“Iya.”

“Sejak kapan dia berasap begitu?” tanya saya lagi.

“Ya nggak tahu. Udah lama kali. Kan pian yang makai tiap hari,” jawab adik saya lagi dengan cueknya.

Mendengar jawaban adik saya tersebut, mau tak mau saya teringat kembali sejarah dari motor tersebut. Motor tersebut dibeli ayah saya sekitar tahun 2005, saat saya masih duduk di semester tujuh. Dengan alasan penghematan, motor itu kemudian menggantikan Yamaha F1ZR yang sebelumnya saya gunakan untuk kuliah, hingga akhirnya bekerja di kantor yang baru.

Sebagai seorang pengguna, bisa dibilang saya tak terlalu pintar merawat motor tersebut. Perawatan paling dasar yang saya lakukan hanyalah membawa motor tersebut ke bengkel untuk perbaikan rutin. Hal-hal seperti memoles bodi motor tidaklah terlalu saya perhatikan sehingga wajar saja jika di tahunnya yang ke tujuh motor tersebut terlihat cukup kusam.

Dengan penampilan fisiknya yang tak lagi menarik, juga ditambah keluarnya asap dari knalpot, mau tak terbersit di benak saya untuk menjual motor tersebut. Pucuk di cinta ulam tiba, seorang paman bertanya apakah saya berniat menjual motor. Setelah melalui diskusi panjang, akhirnya dijuallah motor tersebut kepada paman saya tersebut, tentunya setelah melalui perbaikan besar.

Sebagai pengganti, ibu menyarankan membeli motor matic saja. Saya sendiri secara pribadi sebenarnya kurang setuju dengan permintaan ibu itu. Berdasarkan pengalaman saya menggunakan motor matic, saya selalu merasakan pegal di bagian lengan karena harus selalu menggunakan rem tangan. Selain itu saya juga merasa saya tak cukup pandai mengontrol kecepatan dari motor matic tersebut. Namun demi menyenangkan hati ibu, akhirnya saya pun setuju untuk mengganti Supra Fit saya dengan Honda Beat berwarna merah.

Awal-awal menggunakan si matic, saya tetap masih merasa lebih senang menggunakan motor manual. Tapi yang namanya barang sering dipakai, lama-lama saya terbiasa juga menggunakannya. Salah satu kelebihan motor matic yang saya rasakan adalah saya tidak kerepotan jika harus membawa barang saat menemani ibu ke pasar. Selain itu untuk jalanan lurus dan mulus, si matic bisa melaju dengan kencang.

Satu hari, saat berkunjung ke kediaman salah satu dosen saya, kami sekilas membahas tentang motor matic ini. Kebetulan istri beliau juga termasuk yang lebih meyenangi motor manual seperti saya. Bahkan tak tanggung-tanggung, tunggangan kesukaan beliau dulunya adalah Satria F, motor 150 cc yang biasanya menjadi tunggangan kaum pria.

“Kalau pakai matic itu, usahakan remnya keduanya yang dipakai. Jangan rem depan melulu. Bisa jatuh nanti,” kata dosen saya dalam percakapan tersebut.

Mendengar kalimat dosen saya tersebut, saya manggut-manggut sambil mengingatkan dalam hati agar membiasakan diri menggunakan rem belakang. Maklumlah, selama menggunakan motor manual, saya terbiasa menggunakan rem depan dan juga menggunakan gigi untuk menurunkan laju kendaraan.

Meski sudah mulai membiasakan diri menggunakan rem belakang saat mengerem, namun jika memang sudah ditakdirkan, yang namanya musibah pasti akan terjadi juga. Saat itu, saya sedang berkendara menuju ke rumah usai jam kantor selesai. Dengan kecepatan sedang, saya melajukan motor di sepanjang jalan Sutoyo S. Saat tinggal beberapa ratus meter lagi dari gang tempat saya tinggal, sebuah truk memberikan sinyal akan menyeberang. Refleks saya mengerem si merah. Motor langsung melambat, namun rupanya disertai dengan slip pada roda belakang.

Tanpa saya sadari, saya sudah terguling ke aspal beserta motor saya. Beberapa orang yang kebetulan berada di pinggir jalan langsung berusaha menolong saya. Saya sendiri sempat mengalami momen blank selama beberapa detik akibat kecelakaan tersebut. Masih berada di atas aspal, saya rasakan lutut kiri saya berdenyut serta nyeri di beberapa anggota tubuh yang lain. Ini mengingatkan saya pada peristiwa sebelumnya, saat motor saya bersinggungan dengan sebuah mobil yang membuat kaki kiri saya tertindih motor. Ya, dalam selang waktu tiga bulan, saya sudah dua kali mengalami kecelakaan ringan.

Satu hal yang saya syukuri, tidak ada luka parah yang saya alami akibat kecelakaan yang saya alami tersebut. Namun, satu hal yang saya sadari, kecelakaan adalah momen di mana kita bisa saja mati tanpa persiapan apapun. Bayangkan kita terjatuh dari motor, dan saat masih setengah sadar, tiba-tiba saja sebuah truk sudah berada di hadapan kita. Kalimat apakah yang mungkin akan terucap dari lisan kita di saat-saat tersebut?

0 thoughts on “Balada Pengguna Motor

  1. Saya pernah kecelakaan hampir masuk jurang pas di Bandung dulu… Juga pernah jatuh saat jalan tanjakan pas mau naik Bromo, Mbak… Alhamdulillaah, saya masih sempet istighfar waktu itu…

  2. Jujur aku ngak suka matic, gara gara matic aku jatuh hahaha.
    Menurut surfe aku matic boros n perawatanya jauh harus telaten.
    Max 3 th udah harus di jual.

  3. Alhamdulillah … syukurlah tidak terjadi yang serius …
    Dulu lagi awal2 bisa motor saya juga pernah jatuh kena angin dari kendaraan lain dan tidak bisa berkata apa2.

  4. saya tidak tahu apa yang bakalan saya katakan, sumpah saya masih takut kalau hal seperti itu terjadi. 🙁
    Sebaiknya, untuk kedepannya lebih hati-hati lagi ngebawa si matic mbak. Lambat tidak apa-apa asal selamat, 😀

  5. Iya bener kalo jatuh dr motor memang blank, serasa kayak mimpi aja gitu saking cepat dan tak terduga. Pake motor matic emang sering slip ban, nyebelin. Tapi, karena kekurangannya itu kita dikasih peringatan utk lebih hati-hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *