Balada Kue Kering

img_20160703_154631.jpg

Di masa kecil, saya dan adik perempuan kerap membantu ibu kami membuat kue kering jelang lebaran. Kala itu dengan penuh semangat saya dan adik mencetak adonan-adonan yang sudah dibuat ibu sebelumnya. Ada yang berbentuk bunga, hati juga kemiri dengan isian selai. Biasanya prosesi pembuatan kue kering ini berlangsung 1-2 hari sebelum lebaran.

Tahun berlalu, ibu saya mulai malas membuat kue kering. Alasan utamanya karena kebanyakan kue kering yang dibuat itu ujung-ujungnya tidak habis dimakan. Tak banyak memang tamu yang berkunjung ke rumah kami jika lebaran tiba. Apalagi makin ke sini saya selalu merasa lebaran semakin kehilangan keseruannya. Hingga akhirnya, kebiasaan membuat kue kering pun menghilang di keluarga saya.

Tahun ini, memasuki Ramadhan kedua bersama suami, saya memutuskan untuk membuat kue kering untuk lebaran. Pengalaman berkali-kali menggunakan oven milik ibu membuat saya cukup percaya diri akan berhasil dengan proyek ini. Apalagi suami juga mendukung dan berjanji akan membantu dalam membuat kue kering ini. Jadilah saya semakin bersemangat dengan rencana saya.

“Jadinya kita mau bikin apa hari ini?” tanya suami di Minggu siang.

“Emm.. kue ketapang, kue semprit sama putri salju,” kata saya menyebutkan daftar yang ingin saya buat. Kue ketapang sendiri merupakan keinginan suami yang katanya dulu sering membuatnya bersama ibunya.

“Ya udah kamu siapin adonannya, nanti aku yang bantu nyetaknya,” kata suami kemudian.

Saya pun segera menyiapkan adonan untuk membuat kue kering. Tepung, margarin dan gula menjadi bahan utama pembuatan kue kering hari itu. Adapun resepnya, saya comot dari aplikasi memasak yang ada di ponsel.

“Kamu yakin resepnya benar? Kok jadinya berminyak begini?” tanya suami ketika melihat adonan kue ketapang yang sudah saya buat.

“Di resepnya sih gitu. Memangnya bukan begini?” Saya balik bertanya.

“Seingatku dulu adonannya jadi kayak roti gitu. Ini kebanyakan mentega kayaknya,” jawab suami lagi.

Saya memandangi adonan dalam wadah. Memang dari penampakannya, adonan yang dibuat itu berminyak sekali. Akhirnya suami pun berinisiatif menambahkan tepung agar adonan bisa lebih mudah dibentuk. Baru selesai adonan yang baru dibuat, ibu saya datang dan menyerahkan satu kantong udang untuk dikupas. Mau tak mau saya pun meninggalkan adonan kue dan bisa ditebak kemudian akhirnya suamilah yang menyelesaikan pembuatan kue ketapang ini.

Setelah kue ketapang, daftar selanjutnya yang akan kami buat adalah kue semprit. Untuk kue kering kedua ini, lagi-lagi adonannya salah. Ini terlihat dari tekstur adonan kasar dan hancur jika dibentuk. Saat ibu saya melihat adonan tersebut langsung saja beliau berujar, “Makanya kalau mau bikin kue, tanya dulu resepnya sama Mama.” Saya hanya bisa mesem-mesem mendengar teguran wanita setengah abad yang melahirkan saya itu.

Pada akhirnya, ibu sayalah yang melanjutkan pembuatan adonan kue semprit jilid dua. Adonan pertama masih bisa digunakan sebenarnya. Namun karena termasuk gagal mau tak mau kami harus membuat adonan baru lagi. Nah, jika adonan milik saya yang pertama terlihat kasar dan rapuh, maka adonan milik ibu saya terlihat lembut dan mudah dibentuk. Rupanya kesalahan saya ada pada proses pengocokan margarin dan gula yang kurang lama.

Setelah melewati fase menyemprit dan mengoven, akhirnya kue semprit lebaran kami selesai dibuat. Kue semprit adonan ibu saya terlihat cantik dengan bentuk bunga dan butiran chocochip sementara kue semprit buatan saya terlihat gosong karena kelengahan saya menjaga oven. Selesai membereskan perkakas yang digunakan untuk membuat kue, suami pun berkata kepada saya, “Sudah cukup ya bikin kuenya. Besok nggak usah bikin kue kering lagi.”

Saya hanya nyengir mendengar perkataan suami tersebut. Maklum saja, selama pembuatan kue semprit hari itu, suami kebagian tugas menyemprit adonan kue yang lumayan bikin pegal ibu jari.

Oya, melalui tulisan ini saya juga ingin mengucapkan:

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1437 H

TAQBALALLAAHU MINNA WA MINKUM

SHIYAMANA WA SHIYAMAKUM

23 thoughts on “Balada Kue Kering

  1. Wah gambar kuenya enak banget..
    kalo saya nggak pernah bikin kue sendiri soalnya di rumah nggak ada yg bisa bikin dan oven ngga punya, mungkin nanti mau belajar juga bikin kue lebaran kya mbak ayana..
    Oiya, Mohon maaf lahir dan batin juga mba..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *