Baca Novel Teenlit

Akhir-akhir ini saya mulai membaca novel genre teenlit. Semuanya bermula dari kebosanan saya akan novel-novel dewasa yang saya pinjam di rental langganan. Saya butuh penyegaran! begitu kata saya dalam hati. Maka sambil memilih novel dewasa, mata saya juga menyusuri daftar novel-novel teenlit yang dipajang di rak.

Mungkin ada yang mengatakan membaca novel teenlit berarti penurunan kualitas bacaan. Namun bagi saya, justru dengan membaca novel genre teenlit ini saya memperluas dunia bacaan saya. Meski ya mungkin dunia bacaan yang saya maksud ini masih yang ringan-ringan saja.

Novel teenlit sendiri (setahu saya) mulai berjaya sejak film Eiffel I’m In Love sukses besar di pasaran pada tahun 2003. Film yang diangkat dari novel Rachmania Arunita ini sukses melambungkan nama Sandy Aulia juga Samuel Rizal. Novelnya sendiri, yang awalnya hanya beredar sebagai fotokopian langsung diterbitkan dan laris manis di pasaran.

Selain Eiffel I’m In Love, novel teenlit lain yang diangkat ke layar lebar adalah Dealova karangan Dyan Nuranindia dan Me Versus High Heel karangan Maria Ardelia. Kedua film adaptasi ini juga sukses melahirkan nama Jessica Iskandar, Ben Joshua, Ayushita dan Dwi Andika.

Berhubung novel teenlit ini lahir di saat saya sudah tak lagi remaja, tentunya tidak heran jika kemudian saya merasa tak cocok lagi membaca genre ini. Gaya penulisnya yang rata-rata masih berusia muda kerap membuat saya mengerutkan kening. Bahkan pernah adik saya ngomel-ngomel karena saya katanya meminjam novel teenlit yang benar-benar nggak mutu. Akhirnya, sejak saat itu saya tak lagi tertarik membaca novel teenlit.

Beberapa tahun terlewat. Saya pun sadar kalau novel teenlit sudah mengalami perubahan. Penulisnya tak lagi dikuasai oleh remaja, namun juga penulis dewasa yang concern dengan dunia remaja. Beberapa nama juga cukup memberikan kesan bagi saya. Ken Terate, misalnya. Penulis asal Jogja ini termasuk yang mengkhususkan dirinya dalam dunia teenlit. Selain itu, dari novel-novelnya yang saya baca bisa saya tangkap kalau mbak NiKen (Terate) ini selalu berusaha menyampaikan pesan seputar isu dunia remaja. Mulai dari yang ringan seperti persahabatan, hingga yang lumayan berat seperti bullying, kehamilan tak terencana, hingga kekerasan dalam berpacaran.

Sayangnya, setelah menghabiskan sekian novel teenlit, saya mulai sadar ada yang membuat saya tidak sreg dengan isi novel teenlit ini. Ada beberapa novel teenlit teenlit yang menurut saya lebih mengedepankan kisah cinta ketimbang kisah lain seperti mengejar prestasi dan aktualisasi diri atau persahabatan. Ini membuat seolah-olah dalam dunia remaja adanya jatuh cinta dan pacaran merupakan harga mati.

Padahal toh tak selamanya begitu. Bukankah dunia remaja merupakan masa di mana remaja berusaha menemukan jati dirinya? Ada rasa minder, persaingan, hingga bullying di sana. Cinta pastinya ada. Namun seperti yang saya alami, cinta di masa remaja merupakan cinta monyet yang mungkin bertahan lama namun tak sampai membuat saya patah hati berat layaknya yang saya alami di usia dua puluhan (ini karena cinta saya merupakan cinta terpendam). Jujur saya lebih senang jika teenlit lebih banyak bercerita tentang persahabatan dan persaingan prestasi antar tokoh-tokohnya.

Oke, memang bukan hal yang baru tentang adanya cinta dalam sebuah novel teenlit. Bahkan di generasi pertamanya pun novel teenlit sudah bercerita tentang kisah cinta. Namun entah mengapa saat saya membaca kisah seperti itu di masa sekarang (dengan novel teenlit edisi sekarang), rasanya agak berlebihan. Entah itu dari segi porsinya, hingga deskripsi adegan yang diberikan.

Saya pun mulai berpikir, apakah ini karena penulisnya yang notabene orang dewasa sehingga kisah cintanya pun menjurus ke cinta dewasa? Bukannya saya bermaksud menyudutkan penulis dewasa yang menulis cerita remaja, namun dari beberapa novel teenlit yang saya baca, penulis novel teenlit yang sesuai usianya mampu memberikan kisah cinta remaja yang lebih realistis dan tidak seperti cinta orang dewasa.

Seorang penulis, disadari atau tidak pasti akan memberi pengaruh pada pembacanya. Entah itu novel anak, remaja, hingga dewasa, sebaiknya penulis tetap memberikan pesan yang baik dalam cerita yang dibuatnya. Saya tidak masalah jika harus membaca novel dengan adegan dewasa, hingga cerita dengan kehidupan yang hedonis. Namun saya tetap merasa lebih nyaman ketika membaca novel sederhana tanpa perlu adanya adegan yang berlebihan atau hal-hal yang bertentangan dengan norma yang saya anut.

18 thoughts on “Baca Novel Teenlit

  1. saya pernah baca teenlit, tentang cewe yang punya kakak transgender, tepatnya cowo yang jadi cewe. dan problematika ala usia remaja, tentunya sebagai transgender pula. mulai dari bullying, ngumpet2 dari orang tua, sampe akhirnya dia kabur dari rumah.
    btw, itu saya baca teenlit terjemahan. jadi emang bukan tulisan dari penulis Indonesia.
    dan ada beberapa cerita lagi yang ga mesti cinta2an kok.

    anyway, saya sih suka dengan teenlit, chicklit atau yang kaya2 gini. selain novel dan bacaan2 lainnya. sama seperti yang dirimu bilang, memperluas wawasan bacaan.

  2. Waktu SMA, saya sempat juga suka teenlit karena bosan sama novel yang banyak ngajak mikirnya, Mbak 🙂

  3. Dengan membaca kita bisa ikut mempertimbangkan ya Mbak, apa yang patut dan tidak patut diambil dari cerita itu. Tapi buat memperluas bahan bacaan, tak apalah, saya pun akan membacanya sesekali apabila ingin :haha. Semua bacaan yang kita baca mesti ada manfaat, entah supaya kita melakukan sesuatu, atau tidak melakukan sesuatu :)).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *