AMITRA Membantu Mewujudkan Impian ke Tanah Suci

Sewaktu kecil dulu, saya sempat bercita-cita menjadi guru. Jika ditanya alasannya, mungkin karena hanya itulah profesi yang benar-benar saya ketahui. Makin dewasa, saya pun semakin sadar kalau menjadi guru merupakan pekerjaan yang sangat mulia dan bisa mengalirkan pahala bagi di akhirat nanti. Karena itulah saat saya ditawari pekerjaan membina beberapa anak dalam ekskul menulis di sebuah sekolah Islam Terpadu, saya menyanggupinya. Meski bukan secara resmi sebagai guru, saya tetap berharap dengan membagi ilmu saya di bidang menulis bisa memberikan manfaat bagi anak-anak tersebut.

Selama membina ekskul menulis ini, saya pun sadar kalau yang namanya mengajar itu bukan hal yang mudah. Entah itu yang dihadapi anak SD, SMP hingga mahasiswa sekalipun pasti ada tantangannya. Karena itulah seorang pengajar dituntut untuk bisa kreatif dalam menggunakan metode mengajarnya agar para murid yang diajarnya bisa merasa senang dan benar-benar mengerti apa yang diajarkan guru.

Nah, berkaitan dengan profesi guru ini, Ramadhan yang lalu, bertepatan dengan HUT FIFGRUP ke-28, AMITRA menggelar program khusus yang bertajuk AMITRA Berbagi Berkah. Program ini secara resmi diluncurkan oleh Presiden Direktur FIFGROUP, Margono Tanuwijaya dan Presiden Direktur AMITRA, Zulkarnaen Prasetya di Hotel Aston Priority, Jakarta Selatan pada 5 Juni 2017 yang lalu. AMITRA sendiri merupakan salah satu produk dari FIFGRUP yang melayani pembiayaan syariah. Dengan adanya pembiayaan syariah ini, pihak FIFGRUP berharap bisa melayani lebih banyak lagi masyarakat Indonesia terutama dalam membantu masyarakat dalam mewujudkan impiannya beribadah ke tanah suci.

“Kami berharap di tahun 2017, AMITRA bisa melayani lebih banyak lagi masyarakat Indonesia terutama dalam membantu masyarakat dalam mewujudkan impiannya untuk beribadah di tanah suci.”

 

Read More »

Pengalaman Mengajak Bayi Travelling

Beberapa waktu yang lalu, saya dan suami mengajak Tyas putri kami untuk mengunjungi kakek neneknya yang tinggal di Tangerang. Di usianya yang memasuki bulan ke tujuh, ini adalah pertama kalinya bagi anak saya melakukan perjalanan jauh dan naik pesawat pula. Sebagai orang tua baru, tentunya kami harus mempersiapkan perjalanan ini dengan baik. Saya sendiri sebelum keberangkatan sudah mencari-cari informasi seputar membawa bayi naik pesawat. Mulai dari perlengkapan apa saja yang harus dibawa, hingga tips agar bayi bisa nyaman dalam perjalanan. Selain itu saya dan suami juga beberapa kali melakukan perjalanan yang cukup sebagai pemanasan sebelum kami benar-benar berangkat nanti.

Satu hari sebelum hari H, saya dan suami berkemas. Suami memasukkan pakaiannya ke dalam ransel kecil sementara pakaian saya dan Tyas diletakkan di satu koper travelling. Dalam koper tersebut, selain berisi pakaian saya dan Tyas, juga saya masukkan beberapa perlengkapan bayi seperti popok, pompa ASI dan beberapa perlengkapan MPASI seperti saringan kawat dan parutan keju. Selain tas koper, saya juga membawa sebuah tas jinjing berisi popok ganti, minyak telon, ASIP dan MPASI untuk anak saya dalam perjalanan nanti. Rencananya kami akan berada di tempat mertua selama 5 hari. Oh, ya selain membawa dua tas tersebut, saya juga menyewa sebuah stroller untuk memudahkan kami membawa Tyas saat berada di tempat kakek neneknya nanti.

Tas dan koper sudah siap, maka tahap selanjutnya adalah berangkat. Pesawat kami dijadwalkan berangkat pukul 4 sore. Untuk perjalanan ini, saya terlebih dahulu melakukan check in online pada maskapai yang sudah saya pilih. Nah, berdasarkan saran yang saya dapat, jika membawa bayi sebaiknya pilihlah kursi bagian depan atau bagian belakang agar memudahkan akses keluar nanti. Saya sendiri awalnya memilih kursi bagian tengah karena saat check in kursi bagian depan sudah terisi. Eh saat check in lagi di bandara kursi saya dipindahkan ke depan oleh petugasnya. Jadi, kesimpulannya, ibu yang bawa bayi tidak boleh duduk di bagian tengah pesawat.

Read More »

Wanita Bekerja dan Risiko Terkena Infeksi Saluran Kemih

 

“W nggak masuk ya, hari ini?” tanya saya pada salah satu rekan kerja saya satu hari di tahun 2015.

“Nggak. Dia sakit. Harus opname,” jawab rekan kerja saya tersebut.

Saya langsung terkejut mendengar jawaban beliau. Seingat saya beberapa hari sebelumnya teman saya ini masih sehat-sehat saja.

“Sakit apa, Kak?” tanya saya lagi.

Kakak itu kemudian mendekat pada saya dan sedikit berbisik, “Infeksi saluran kemih.”

Saya terdiam sejenak. Infeksi saluran kemih. Rasanya baru kali itu saya mendengar namanya. Penyakit jenis apakah itu? Apa penyebabnya? tanya saya dalam hati.

Setelah kembali bekerja, saya pun menanyakan perihal penyakit yang dideritanya pada teman saya W ini. Rupanya dia terkena infeksi saluran kemih ini disebabkan oleh kebiasaannya menahan pipis saat berada di kantor. Yah, namanya kantor kadang WC harus gantian kan, ya. Belum lagi kadang ada pekerjaan yang suka nanggung untuk ditinggalkan. Jadilah teman saya ini kadang lebih memilih menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Siapa sangka karena terlalu sering menahan pipis ini ternyata membawa masalah untuk teman saya itu.

Read More »

Cerita Lebaran : Jatuh Bangun di Kampung Orang Tua

“Tadi Dede pintar lho, Mas pas aku dan Mama salat. Dia rebahan dan nggak rewel,” kata  saya pada suami sepulang dari salat Ied yang kami laksanakan di Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Tak seperti tahun lalu, tahun ini Ramadan dan lebaran kami memang terasa berbeda dengan kehadiran putri kami yang sekarang berusia 6 bulan. Jika tahun lalu saya masih bisa mengikuti ibadah tarawih bersama suami di mesjid atau musala, maka untuk tahun ini ibadah tarawih saya lakukan di rumah saja karena rasanya tak mungkin membawa Tyas ke musala atau mesjid untuk ikut tarawih.

“Iyakah? Alhamdulillah kalau Dede-nya pintar,” balas suami saya sambil menimang putri kami.

Berbeda dengan tarawih, untuk ibadah salat Ied saya dan suami akhirnya memutuskan untuk membawa serta anak kami. Selain karena durasinya yang terbilang singkat, saya juga ingin mengenalkan Tyas pada suasana salat Ied. Selain itu anak saya masih belum terlalu aktif pergerakannya. Meski begitu, tetap saja yang namanya membawa bayi, otomatis persiapannya jadi sedikit lebih repot ya. Untungnya saya dan keluarga tidak sampai terlambat tiba di tempat salat. Hanya selang beberapa menit sebelum imam memulai salat, saya dan ibu sudah berhasil mendapatkan tempat salat.

Saat suami setuju untuk membawa serta Tyas dalam pelaksanaan salat ied, dia menyarankan agar saya salat sambil memangku anak kami. Namun karena yakin anak saya tidak akan rewel, sebelum melaksanakan salat, Tyas saya letakkan di antara saya dan ibu dengan beralas selimut miliknya. Alhamdulillah, selama kami salat Tyas tidak menunjukkan tanda-tanda bosan atau rewel. Sementara kami salat, matanya tampak bolak-balik memandangi saya dan ibu saya. Tyas juga tidak melakukan aksi tengkurap seperti yang kerap dilakukannya jika sudah direbahkan. Mungkin dia sadar kalau alas tidurnya keras jadi dia lebih memilih tetap dengan posisi telentang. Sambil memandangi ibu dan neneknya, sesekali anak saya mengeluarkan celotehan khas miliknya.

Read More »

Persiapan MPASI untuk si Kecil

Bulan Juni ini, Insya Allah anak saya akan berusia 6 bulan. Itu artinya anak saya sudah bisa dikenalkan pada makanan padat atau yang biasa disebut dengan MPASI. Layaknya ibu-ibu baru lainnya, tentunya saya sangat bersemangat menanti datangnya hari anak saya mulai makan. Anak saya sendiri juga sudah mulai menunjukkan ketertarikannya pada makanan. Setiap kali orang tuanya mulai makan, matanya bakal memandangi kami seolah berkata, “Duh aku juga pengen dong makan itu,” Heuheuheu.

Nah, berhubung ini adalah tahap baru dalam perkembangannya, tentunya ada hal-hal yang harus dipersiapkan sebelum memberikan MPASI untuk anak saya. Persiapan ini tak melulu dalam bentuk barang namun hal-hal lain yang menurut saya penting. Persiapan tersebut antara lain:

Read More »