4 Cara Berhemat di Bulan Ramadhan

Tahun ini merupakan kali ke-3 saya menjalani Ramadhan dengan status sebagai seorang istri, plus tahun pertama sebagai seorang ibu. Tentunya jika dibandingkan dengan Ramadhan saat masih sendiri ada beberapa hal yang berubah dalam keseharian saya. Yang paling nyata adalah dalam pengaturan keuangan plus dapur. Meski masih tinggal bersama ibu saya, namun tetap dong saya bertanggung jawab atas kelangsungan perut suami. Apalagi suami bukan orang Banjar yang otomatis lidahnya berbeda dengan saya yang Banjar tulen.

Salah satu hal yang paling berasa saat Ramadhan adalah soal pengaturan keuangan selama bulan Ramadhan. Meski siang hari kita tidak makan minum, siapa yang menjamin kalau pengeluaran bakal bisa lebih irit ketimbang di luar bulan Ramadhan. Malah bisa-bisa sebaliknya. Pengeluaran di bulan Ramadhan membengkak. Mending keluarnya buat sedekah, lah ini kebanyakan buat hal-hal yang berhubungan dengan urusan perut. Heu.

Nah, sebagai seorang pengatur keuangan di rumah, mau tak mau saya harus pintar-pintar menyiasati pengeluaran selama bulan Ramadhan. Beberapa hal yang biasanya saya lakukan antara lain:

Tidak sering mengunjungi pasar Ramadhan

Sungguh pasar Ramadhan itu adalah racun kalau saya bilang. Setiap kali saya ke pasar Ramadhan, pasti belanjanya di luar perencanaan. Aneka ragam penganan yang dijual di pasar Ramadhan ini sungguh menggoda selera. Alhasil saya yang rencananya cuma mau beli kue, pulang-pulang bisa membawa kolak, nasi samin, gelas, jilbab, dan aneka barang lainnya yang sukses menggoda iman saya. Karena itulah selama beberapa tahun terakhir saya hanya mengunjungi pasar Ramadhan ini sekali saja selama Ramadhan. Biar nggak penasaran aja sih intinya.

Membuat sendiri menu berbuka

Dengan status saya seorang ibu bekerja, jujur saya agak kesulitan dalam menyiapkan menu berbuka untuk keluarga. Jam pulang memang lebih cepat sih. Tapi tetap saja rasa-rasanya kejar-kejaran saat menyiapkan menu berbuka ini. Tapi ini tentu tidak bisa dijadikan alasan untuk terus-terusan membeli lauk jadi dong ya. Untuk menyiasatinya, saya memilih menyiapkan menu berbuka yang praktis seperti sayur santan, ikan goreng dan aneka tumisan. Kalau ada yang perlu dibeli seperti kue khas Ramadhan, belinya beberapa hari sekali saja. Sisanya bikin sendiri macam bakwan atau perkedel. Trus, yang paling penting, untuk minuman berbuka wajib bikin sendiri. Bayangkan kalau harga satu bungkus es buah itu 5000 rupiah, trus saya harus beli 4 porsi lumayan banget kan, ya. Padahal kalau bikin sendiri dengan modal yang sama bisa bikin es campur buat beberapa hari.

Tidak terlalu sering mengikuti bukber

Selama beberapa tahun terakhir, bukber kayaknya sudah menjadi tradisi selama bulan Ramadhan. Entah itu bukber alumni, bukber teman sekantor dan aneka undangan bukber lainnya. Pokoknya, makin banyak komunitas yang kita ikuti, InsyaAllah akan makin banyak undangan yang kita dapat. Saya dulunya termasuk yang cukup bersemangat mengikuti bukber. Namun makin ke sini saya kok merasa acara bukber makin menguras dompet yak? He. Kalau dulu bukber bisa diadakan di rumah salah satu penyelenggara, maka sekarang sedang ngetrend bukber di hotel yang menyediakan menu all you can eat. Enak sih mungkin menunya. Tapi bayarnya tetap lumayan. Apalagi kadang bukber ini juga bisa membuat kita kehilangan waktu shalat, terutama jika diadakan di tempat yang memang kurang memfasilitasi untuk salat. Saya mah bye aja deh kalau tempatnya begini.

Membeli Pakaian Hari Raya sebelum Ramadhan Tiba

Hingga kini, membeli baju baru untuk Lebaran kayak masih jadi kebiasaan ya, termasuk untuk saya pribadi. Nah, berkaca dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, saya memilih untuk hunting baju lebaran sebelum Ramadhan tiba. Selain karena berbelanja di bulan Ramadhan itu capek, harga yang dipasang penjual sudah mahal banget. Yang biasanya mungkin cuma seratus ribu, pas dekat Lebaran bisa jadi dua ratus ribu. Alternatif lain dalam membeli pakaian Lebaran adalah dengan membeli online. Sekarang sudah banyak sekali e-comerce yang menyediakan aneka gamis untuk lebaran. Tapi harus diingat juga di bulan Ramadhan bisa jadi terjadi peningkatan transaksi yang mungkin berakibat pada keterlambatan proses pengiriman. Dan tetap harus diingat kalau mau belanja pakaian dengan online jangan dekat-dekat hari raya soalnya biasanya sudah tutup pemesanan mereka. Wajar dong ya. Olshop dan perlu mudik dan berlebaran juga. Heuheu.

Demikian sedikit langkah yang saya gunakan untuk bisa berhemat selama Ramadhan ini. Semoga bisa bermanfaat buat yang baca, ya. Atau kalau ada yang mau ditambahkan monggo banget 🙂

22 thoughts on “4 Cara Berhemat di Bulan Ramadhan

  1. Alhamdulillah tipsnya kebetulan sama dengan apa yang saya lakukan. salah satunya tentang beli baju lebaran sebelum ramadhan. Selain pas puasa kita gak perlu berdesak-desakan di pasar maupun di mall, kita juga jadi tenang ngejalanin puasanya 🙂

  2. Pasar ramadhan emang penggoda iman luar biasa ya mbak. Aku juga udah ngerasain nih. Niat dr rumah cuman beli gorengan 10 biji lah jd merembet ke cendol 2 bgks, kue pukis juga, dan sate jugaaak ! Asli lapar mata itu mah, hahaha

  3. Wahahaha bukber bukbe. Kebanyakan bukber memang menguras. Tapi alhamdulillah saya punya tradisi bukber di organisasi yang turun temurun “dibebankan” pada angkatan aktif. Kayaknya karena udah tradisi gitu, jadi gak terbebani. Bukber di mushalla / masjid juga relatif hemat. Ini pengecualian berarti ya Mba. hehehe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *